Senin, 07 Februari 2011

Sejarah Film




‘Film adalah suatu hasil daya cipta manusia yang menggambarkan kehidupan serta bersifat artistic, bergerak dan memiliki makna’.

Biasanya film berupa gambar bergerak yang diwujudkan dalam sinema ataupun sinetron seperti yang kita ketahui dewasa ini. Film atau dalam bahasa inggris adalah Cinema berasal dari bahasa Yunani, yang berarti gerak, berasal dari penyingkatan kata Cinematograph sebuah nama untuk proyektor kamera penemuan Lumiere Bersaudara. Adapun istilah lain untuk sinema ini adalah Movies, berasal dari bahasa inggris yaitu Movie yang berarti bergerak, atau gambar yang bergerak.

Berbeda dengan seni-seni pendahulunya yaitu seni musik, seni sastra, seni theater, ataupun seni rupa, Film merupakan suatu seni yang paling akhir ditemukan seiring dengan ditemukannya alat pemutar film dan Film inipun dianggap sebagai bentuk seni yang terakhir. Salah satu ciri unik yang menonjol dan membedakan seni film dengan seni-seni lainnya adalah seni film ini merupakan penggabungan dari bentuk-bentuk yang lain. Itulah kenapa, tidak jarang kita dapat menyaksiksan seseorang berakting layaknya di theater dan bernyanyi layaknya di seni music.

Jauh sebelum ditemukan teknologi film oleh orang Eropa, sebenarnya teknologi ini pernah disinggung dalam penelitian seorang astronom muslim pada abad ke-10 bernama Ibnu Hazn, lalu berabad berikutnya di Jelaskan oleh Leonardo da Vinci pada tahun 1558 melalui penemuannya yaitu Obscura (‘kamar gelap’), dan puncaknya adalah seperti pada penemuan fotografi pada tahun 1826 oleh Joseph Niepce dari Prancis.

Pada 6 Oktober 1889, Thomas Alva Edison berhasil membuat film bicara (talkie). Alat ini dinamakan kinetophone. Edison mengerjakan penelitiannya di New Jersey, dibantu oleh seorang warga Inggris, William Kenneddy Laurie Dickson, yang melakukan eksperimen pembuatan proyektor Edison.

Pada mulanya, Edison membuat gambar hidup dari Fred Ott yang sedang bersin pada tahun 1887, ketika itu ada banyak sekali orang-orang yang bersedia membayar untuk melihat pertunjukan perdana tersebut. Setelah itu pada penayangan film selanjutnya yang berjudul Sneeze berdurasi 1 menit pun tetap menjadi buruan para penonton. Lalu merekapun melihat beruang yang terlatih (Sandaw), cara mencabut gigi (the strong man), dan bagaimana gadis Puerto Rico menghibur prajurit Paman Sam (Annie Oakly).

Akan tetapi, pada perkembangannya Edison lebih suka untuk membuat suatu sinema yang sekedar digunakan untuk sendiri. Lalu bagaimana dengan awal terciptanya bioskop? Bioskop berawal dari penemuan Louise dan Auguste Lumiere di Prancis serta Thomas Armant di Amerika Serikat.

Konsep bioskop ini terselenggara pula di Inggris (Februari 1896), Uni Soviet (mei 1896), Korea (1903) dan Italia (1905). Di Indonesia, film pertama kali dperkenalkan pada 5 Desember 1900 di Batavia (Jakarta).

Film cerita pertama didunai yaitu The Life time an American Fireman dan the Great Train Robbery (1903) adalah fil cerita amerika pertama yang dibuat oleh menemukan system editing sejajar (pararel editing) dan seringkali disebut sebagai bapak Editing Dunia. La Presa di Roma dibuat di Italia oleh Filateo Alberini pada 1905. Kemudian, India juga membuat Film cerita pertama mereka yaitu Raja Hariscandra 1913.

Setelah sebelumnya hanya ada film-film berdurasi pendek, pada 1915, DW Griffith membuat film berjudul birth of nation. Film ini dibuat dengan biaya yang amat mahal padanya, $110ribu, tetapi ternyata menghasilkan keuntungan lebih dari $20 juta. Inilah sejarah film laris atau bok office didunia.

Setelah itu, industry film semakin semarak. Perusahaan-perusahaan film bertumbuhan, seperti universal film manufacturing company, Twentieth Century Fox (1912), Metro Goldwyn Mayer (1924), dan Warner Brothers (1912). Lalu ada United Artist pada 1919 yang dibentuk dari sineas independen seperti Charles Chaplin, Mary Pickford, Douglas Fairbanks, dan DW Griffith. Ada juga perusahaan kecil yang menjadi besar, yaitu Columbia Pictures pada 1924.

Oleh: TisnaEgar,

disarikan dari buku “Why Not, Remaja Doyan Nonton” karya Ekky Al- Malaky.

2 komentar:

sutyarahman mengatakan...

wah....bagus.....bagus...bagus...

Much A do About Youth mengatakan...

hahahahahhaha.......... makasih opik